Analisa Kasus pembunuhan


Analisa Kasus Tindak Pidana

 

 

KASUS PEMBUNUHAN DI PASAR BINTAN CENTRE

Tersangka : A Hiang/ Kie Hai/ Apek koboy

Korban     : A bak/ Tjia Mei

Tempus   : 4 Oktober 2010 sekitar pukul 04.00 WIB.

Locus      : Pasar Bestari Bintan Center

Modus     : cek-cok mulut dan rasa kesal yang berkepanjangan

  1. Kronologi Kasus

Kejadian diawali dengan cekcok mulut saat dagangan mulai dipersiapkan. Ketika itu, A Hiang sedang duduk di kedai kopi. Dari kejauhan A Hiang melihat Tjiang Ming alias A Bak sedang memindahkan kayu untuk menggantung kantong plastik miliknya.

A Hiang mendatangi A Bak dan menanyakan tentang pemindahan gantungan kantong plastik tersebut, A Bak menungkapkan bahwa gantungan kantong plastik itu mengenai gantungan plastik miliknya. Cekcok mulut pun terjadi hingga A Bak mengeluarkan bahasa kotor dalam bahasa Cina.

Mendengar bahasa kotor tersebut, A Hiang naik darah dan mengambil parang yang berada di dekatnya dan mendaratkan ke batang leher sebelah kiri A Bak hingga mengeluarkan darah segar.

A Bak berusaha melarikan diri dengan membalikkan badannya. Tapi tebasan kedua kalinya hinggap di kepalanya dan lalu tersungkur di lantai. Setelah menebas leher A Bak dan meninggalkannya dalam kondisi bersimbah darah, A Hiang mendatangi Polsek Tanjungpinang Timur yang berada di depan Pasar Bestari.

A Hiang mengatakan ke petugas jaga bahwa ia baru saja membunuh orang dengan parang yang masih berada di tangannya.

  1. Analisa Kasus

Berdasarkan kasus, pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Pasal 340 KUHP : “ Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun “

Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah :

  • Dalam kasus, yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah A Hiang, sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh A bak, dan A Hiang tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP  yaitu;
  1. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP), bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP), melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP), dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP)
  2. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP), Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP), Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP), dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP)
  • Dalam kasus, Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk melayangkan parang ke arah A Bak karena rasa kesal terhadap A Bak tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.
  • Dalam kasus, A hiang melihat A bak berbalik setelah pembacokan pertama namun tetap membacok A Bak kedua kalinya hingga tewas, sehingga bisa dimasukkan kedalam pasal 388 KUHP tentang tindak pidana pembunuhan dengan disengaja.
  1. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP

“ Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan”

Berdasarkan pasal tersebut, Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana.

A Hiang diancam dengan hukuman 14 tahun penjara atas perbuatannya terhadap A Bak.